Prinsip – Prinsip Transaksi dalam Islam

PRINSIP-PRINSIP TRANSAKSI DALAM ISLAM (1)
KEADILAN

Nilai Keadilan Terhadap Pelarangan Bunga
Di dalam inti ajaran agama islam konsep nilai keadilan adalah merupakan semua inti ajaran yang diwajibkan untuk dilaksanakan pada setiap kegiatan.Adil kepada setiap orang juga adil untuk diri sendiri merupakan cerminan islam dalam mengajarkan umatnya. Al-Qur’an sendiri secara tegas menyatakan bahwa maksud diwahyukannya, adalah untuk membangun keadilan dan persamaan (al-Qur’an 57:25 dan 7:29). Adil menurut islam adalah tidak membahayakan bagi dirinya sendiri (laa dharara wa laa dhiraar) atau tidak melakukan tindakan yang mendzalimi dirinya sendiri ataupun orang lain (laa tadzlimuuna wa laa tudzlamuun). Sedikit konsep adil dalam perspektif ekonomi islam, benar memang adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya atau menerima hak tanpa lebih dan memberi hak orang lain tanpa kurang. Di dalam Islam keadilan adalah penting dan sangat diutamakan, juga seperti dalam firman Allah SWT dalam QS : An-Nahl : 90 yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.
Sehingga adil dalam perspektif Islam tidak ada yang menzalimi dan tidak ada yang terzalami.

Adil berarti juga dapat menempatkan sesuatu pada yang haq. Tidak dapat dibenarkan bagi seseorang melakukan tindakan yang bukan kewenangan dirinya, atau mengambil sesuatu tanpa adanya perbuatan yang dibenarkan. Di dalam unsur keadilan sering kali terjadi karena adanya unsur eksploitasi kepada yang lain, melakukan tindakan sewenang-wenang tanpa berpikir tentang akibat yang akan ditimbulkannya dengan menyampingkan unsur moralitas.

Penerapan bunga pada prinsip ekonomi kapitalis lebih bersifat individualistik, yang hanya berpikir untuk kepentingan pribadinya tanpa memperdulikan keadaan lingkungan sekitar. Beban bunga pada setiap dana yang dipinjamkan kepada yang lain akan dapat memberatkan dan menyulitkan kerika batas waktu pengembalian telah datang. Di samping harus mengembalikan nominal pokok dari dana yang dipinjam, seseorang harus memberikan tambahan lebihan dari dana tersebut. Tidak dipedulikan apakah orang tersebut mampu membayar atau tidak. Dan jika saat batas waktu tidak dapat membayar maka beban bunga secara otomatis akan bertambah.

Secara jelas dapat terlihat bahwa unsur eksploitasi yang terdapat di dalamnya cukup kuat, dan ada salah satu pihak yang terdzalimi, di mana seseorang yang meminjam danaharus terbebani risiko. Kalau di dalam perbankan lazimnya pemilik harta yang menitipkan dan atau menginvestasikan uangnya seharusnya menanggung risiko investasi bukan mendapat jaminan pengembalian seluruh pokok investasi.
Tindakan tidak adil dapat kita lihat dalam praktek perbankan selama ini yaitu:
1) Bunga yang dibayarkan kepada nasabah pemilik dana bukan berdasarkan hasil usaha bank dan waktu pemakaian uang yang sebenarnya, apalagi berdasarkan hasil dan waktu pemakaian uang oleh nasabah pemakai dana.
2) Bila bank tidak sanggup membayar sebagian atau seluruh bunga dan pokok uang simpanan nasabah pemilik dana dari pembayaran nasabah pemakai dana, maka bank harus membayar dari modal dan harta lain milik bank. Bila tak sanggup lagi, maka pemerintah mengambil alih kewajiban bank dan selanjutnya jadi beban rakyat.
3) Timbul kondisi dzalim dari nasabah pemilik dana dan pemilik bank kepada pemerintah dan rakyat.
Bila nasabah pemakai dana tak sanggup membayar sebagian atau seluruh bunga dan pokok uang yang dipakai maka bank mengambil pembayaran sisa kewajiban nasabah pemakai dana dari pencapaian jaminan. Timbul moral hazard.
4) Adanya kegiatan yang menjadikan uang sebagai komoditi. Padahal uang tidak dapat menghasilkan sesuatu sampai uang itu berganti menjadi harta atau hak pengguna harta.
5) Bunga yang harus dibayarkan oleh nasabah pemakai dana ditentukan berdasarkan jumlah uang dan jangka waktu hak pemakaian uang bukan berdasrkan hasil pemakaian uang oleh nasabah pemakai dana maupun jenis transaksi yang dibiayai oleh bank.
6) Adanya keberpihakan sistem kepada orang yang memiliki uang untuk memperoleh hasil tanpa harus bekerja, terlepas apakah uang tersebut digunakan atau tidak untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah.

Sosialisasi Perbankan Syariah
Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, peran umat Islam di negeri ini tak bisa diabaikan begitu saja. Dari sisi finansial, mungkin memang tak seberapa kemampuannya dibandingkan dengan segelintir konglomerat yang menguasai perekonomian nasional. Namun tetap saja, umat Islam adalah sebuah kekuatan ekonomi negeri ini.

Islam diturunkan ke bumi adalah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dengan demikian, semua aspek kehidupan dalam persepsi Islam adalah ibadah kepada-Nya sekaligus harus memberikan manfaat bagi semesta alam. Termasuk di dalamnya adalah aturan mengenai kehidupan ekonomi umat.

Perbankan syariah sebagai bagian dari penerapan aturan Islam, mengusung semangat keadilan. Bahwa menerapkan ekonomi Islam (syariah) merupakan upaya untuk memakmurkan seluruh umat karena sistemnya yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak yang bersepakat dalam transaksi tersebut. Praktik yang dilakukan dengan akad, bisa dinegosiasikan dan tidak memberatkan salah satu pihak, merupakan keunggulan perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional.

Seperti diungkapkan oleh Dr Mulya E Siregar, Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan Perbankan Syariah Bank Indonesia yang mengatakan bahwa seharusnya yang dikedepankan dalam sosialisasi perbankan syariah adalah prinsip keadilan. ”Janganlah bicara soal halal dan haram, tetapi perbankan syariah lebih adil dalam sistemnya,”
Prinsip keadilan ini bisa dijelaskan sebagai berikut : Dalam transaksi perbankan syariah, ada akad yang disepakati bersama. Sedangkan sistem bagi hasilnya diterapkan sesuai kondisi ekonomi atau sesuai kondisi usaha yang dijalankan. Dengan demikian, ketika keuntungan berlimpah maka nasabah dan bank memperoleh bagi hasil yang sama besar.

Sebaliknya, saat perekonomian memburuk dan usaha berjalan tak sesuai rencana semula, kerugian tak cuma ditanggung bank tetapi juga nasabah. Dengan cara ini, kedua belah pihak saling membantu, baik dalam masa lapang maupun kesempitan. Pada akhirnya, stabilitas yang diciptakan oleh bank dan nasabah ini akan membantu memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi karena prinsip keadilan tersebut.

Bukan berarti pemahaman mengenai bagi-hasil yang berbeda dengan bunga (interest) atau prinsip-prinsip perbankan syariah, tidak penting. Hanya saja, informasi yang mendasar mengenai prinsip keadilan ini seharusnya dikedepankan. Pasalnya, jika seseorang sudah memahami prinsip dasarnya maka penjelasan mengenai praktik perbankan syariah yang lainnya akan lebih mudah diserap.

Karena itu, seluruh stakeholders perbankan syariah sebaiknya mengedepankan prinsip keadilan ini, ketimbang bicara mengenai keharaman bunga bank. Hal itu membutuhkan kemampuan sumber daya insani (SDI) perbankan syariah yang memadai. Karena itu, sosialisasi kepada masyarakat selayaknya beriringan dengan peningkatan kemampuan SDI.

PRINSIP-PRINSIP TRANSAKSI DALAM ISLAM (2)
MASLAHAT DAN MANFAAT

Keseluruhan produk hukum Islam adalah untuk kemaslahatan dan manfaat bagi manusia. Kemaslahatan manusia ini oleh Imam Ghozali dirinci dalam lima aspek kehidupan yang menjadi aspek pokok tujuan syariat. Kelima aspek tersebut adalah:
1) terpeliharanya agama
2) terpeliharanya jiwa
3) terpeliharanya akal
4) terpeliharanya keturunan, dan
5) terpeliharanya harta atau modal
Dalam memelihara lima aspek pokok tujuan syariat di atas, ada dua metode yang digunakan, yaitu pemeliharaan secara preventif, dan pemeliharaan secara proaktif.

Metode preventif berarti melestarikan dan memelihara lima aspek tersebut dengan melarang perbuatan-perbuatan yang berakibat bagi kerusakan lima aspek tersebut, atau dengan memberikan hukuman berupa sanksi bagi yang melanggar. Contoh dalam pemeliharaan preventif ini adalah: sanksi bagi yang meninggalkan sholat (pemeliharaan agama), larangan membunuh (pemeliharaan jiwa), larangan minum-minuman yang memabukkan (pemeliharaan akal), larangan zina (pemeliharaan keturunan), larangan makan harta orang lain secara bathil (pemeliharaan harta).

Sedangkan metode proaktif dilakukan dengan cara memberikan perintah untuk mengerjakan amalan demi terpeliharanya ke lima aspek pokok tujuan syariat. Contoh dalam pemeliharaan proaktif ini adalah: perintah sholat (pemeliharaan agama), perintah mengkonsumsi makanan yang halal dan baik (pemeliharaan jiwa), perintah belajar (pemeliharaan akal), perintah nikah (pemeliharaan keturunan), dan perintah bekerja (pemeliharaan harta).

Dalam tujuan sirkulasi, hendaknya harta atau modal yang dimiliki seseorang mengalami perputaran di tengah masyarakat dengan jalan infaq (belanja), baik infaq konsumsi, produksi, investasi maupun donasi. Tujuan jelas dan legal, ditujukan agar harta atau faktor produksi yang dimiliki oleh seseorang itu terhindar dari peluang adanya pertikaian dan perselisihan, sehingga harta tersebut mesti jelas statusnya dan legal kepemilikannya. Tujuan keadilan dalam harta adalah agar manusia menginfakkan harta tersebut melalui konsumsi, produksi investasi maupun donasi, dan menghindarkan diri dari perbuatan berlebihan atau infaq yang diharamkan oleh agama. Tujuan terpeliharanya harta dengan menghindarkan dari kedzaliman adalah melarang orang lain mengambil atau berbuat dzalim atas harta seseorang yang berakibat terjadinya kerusakan atau hilangnya harta itu.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun. Materi Dakwah Ekonomi Syariah. Jakarta : PKES (Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah)
http://www.sebi.ac.id/index.php/
http://zanikhan.multiply.com/journal/item/225/Konsep_Ekonomi_Islam_dalam_Fiqih_2.htm

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s